Aku, Hijab dan Dunia
by Nora Azmia
Why travel? Because then we know the world exist in diversity. You know how to be a minority, and you know how to respect them. – Travel Quotes
Mengapa Backpacking?
Banyak teman bertanya kenapa sih saya suka traveling, dengan cara backpacking pula. Untuk apa saya melakukan perjalanan, dapat apa dari sebuah perjalanan, dan semacamnya. Jawabannya… tanya kenapa? haha. Baiklah… saya akan coba sharing beberapa hal mengenai traveling ala backpackers. Semoga dengan ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sengaja saya bercerita mengenai pengalaman traveling ke luar negeri. Bukan berarti tidak cinta Indonesia dan tidak pernah traveling di dalam negeri. Hanya saja saya ingin memberikan gambaran bahwa traveling ke luar negeri tidak semahal yang dibayangkan. Dan tidak perlu menjadi orang kaya tujuh turunan untuk bisa berjalan-jalan ke luar negeri. Dengan backpacking, traveling ke luar negeri menjadi sangat mungkin.
Supaya kita punya persepsi yang sama mengenai istilah backpacking atau backpackers, definisi dari Wikipedia ini bisa jadi pencerahan: Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel. Terms such as independent travel and/or budget travel are often used. The factors that traditionally differentiate backpacking from other forms of tourism include use of public transport as a means of travel, preference of youth hostels or couchsurfing to traditional hotels, longer trip than conventional vacations, use of a backpack, an interest in meeting the locals as well as seeing the sights. – http://en.wikipedia.org/wiki/Backpacking_(travel)
Intinya… backpacking itu adalah low budget traveling, jalan-jalan murah. Sedangkan backpackers adalah orang yang melakukan perjalanan dengan cara backpacking. Mengapa murah? Karena seorang backpacker merencanakan sendiri perjalanannya, tanpa ikut tour melalui travel agent. Mulai dari booking pesawat (memilih low cost carrier dan tiket promo), booking penginapan (menginap di hostel atau guest house, atau via couch surfing, ketimbang di hotel), menyusun itinerary (rencana perjalanan) sendiri, menggunakan public transport selama di tempat tujuan, dan semacamnya. Ciri khas seorang backpacker biasanya adalah menggunakan backpack atau ransel dalam membawa perlengkapannya. Penggunaan backpack atau ransel ini adalah demi kemudahan dalam melakukan aktivitas, karena sering kali harus berjalan kaki yang cukup jauh, dan juga pindah-pindah tempat atau berganti alat transportasi. Menggunakan ransel akan lebih memudahkan kita untuk bergerak cepat, ketimbang harus menggeret-geret koper, apalagi kalau harus naik-turun tangga baik di tangga penyebrangan atau juga di penginapan.
Lalu mengapa backpacking? Saya lebih suka bepergian tanpa tour dari travel agent karena selain biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah, adalah juga karena beberapa hal, diantaranya:
1) Bisa memiliki kesempatan untuk mengunjungi Mesjid atau menemukan tempat sholat, seperti Mushola dan sholat dengan nyaman di tempat tujuan. Hal ini sering dilupakan oleh travel agent, yaitu tidak memasukkan Sholat dalam tour itinerary mereka.
2) Bisa puas meng-explore sendiri satu tempat dengan waktu tidak mengikat (bisa lebih lama di suatu tempat), sehingga berkesempatan mengamati apa pun tanpa di atur apa yang harus diamati, nggak mati gaya;
3) Bisa berinteraksi dan bergaul dengan penduduk local (being a local), merasakan irama kota dan orang-orangnya sehingga bisa memahami dan mengenal budaya setempat lebih dalam;
4) lebih merasakan nikmatnya traveling, mencoba berbagai macam moda transportasi, menemukan tempat-tempat seru dan terkadang pakai acara kesasar pula. Let’s get lost! 😀
Bagaimanapun, pilihan cara traveling adalah sangat personal. Tak masalah kita mau memilih traveling ala backpackers atau menggunakan tour dari travel agent, mau memakai ransel atau koper. Yang penting adalah Let’s Go Everywhere!
Kembali ke pertanyaan “mengapa saya suka traveling?” Setiap orang pasti punya hobi atau kesukaan yang membuatnya terlibat secara mendalam (emotionally involved/attached) terhadap hobinya itu. Analoginya adalah sama dengan seseorang yang suka dengan gadget dan selalu up to date membeli gadget keluaran terbaru, atau seseorang yang punya hobi fotografi dengan peralatan dan perlengkapan fotografinya. Biaya yang rela dikeluarkan tentu sangat relatif dan tergantung dari kesanggupan atau budget masing-masing. Tetapi nilainya tidak bisa dihitung jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat bagi pemilik hobi. Bagi saya, traveling is the only thing we buy that makes us rich
1. Semakin dekat dengan Sang Pencipta karena menyaksikan keajaiban dan keindahan alam, mensyukuri nikmat-Nya
Setiap negara pasti menjual keindahan alamnya sebagai obyek wisata. Menyaksikan salju di musim dingin, bunga bermekaran di musim semi, daun berguguran di musim gugur, gunung, laut, hutan, pohon-pohon, gurun dan lainnya. Ketika menyaksikan keindahan ciptaan-Nya itu secara tidak sadar kita bertasbih, mengingat Allah SWT.

Pic: Pepohonan di salah satu taman di Beijing
Namun, sering kali pemandangan alam di Indonesai jauh lebih cantik dan mengagumkan ketimbang pemandangan di negara-negara yang pernah saya kunjungi. Jika demikian, saya pun merasa bangga dan menjadi semakin cinta dengan Indonesia, yang benar-benar “dangerously beautiful!” Selain pemandangan alam, Indonesia di banyak hal jauh lebih baik daripada beberapa negara dunia ketiga lainnya, seperti misalnya Kamboja. Ketika mengunjungi Kamboja baru-baru ini, saya seperti berada di sebuah kota kecil di daerah Sumatera. Rakyat Kamboja memang lama dijajah dan mengalami konflik internal di dalam negeri mereka. Sehingga kesejahteraan masyarakatnya pun masih memprihatinkan. Tak heran jika banyak negara maju menjadikan Kamboja sebagai tempat untuk menyalurkan donasi mereka dan mengirimkan relawannya ke sana. Fasilitas umum seperti sekolah, RS dan lainnya banyak yang merupakan bantuan dari Jepang atau Korea Selatan. Dan saya pun menjadi bersyukur sekali menjadi warga negara Indonesia.

Pic: Seorang ibu dan dua anaknya mengemis di Tonle Sap Great Lake, Siem Reap, Kamboja
2. Our lessons come from the journey, not the destination
Melakukan perjalanan ke suatu tempat adalah menemukan sesuatu yang baru, hal-hal baru untuk dibawa pulang, untuk diceritakan, untuk diambil hikmah dan kebaikannya, untuk dikenang, dan lainnya.
Contoh ketika pergi ke Taiwan di awal tahun 2013 ini, banyak kejutan yang saya rasakan. Selama ini mungkin banyak orang mengira Taiwan adalah seperti negara dunia ketiga, seperti Indonesia, Thailand, atau Malaysia. Namun ternyata Taiwan (Republic of China) sudah bisa disejajarkan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura dan juga RRC (People Republic of China) sendiri. Taiwan sudah sangat maju dan modern. Suasana kota yang bersih dan teratur, kedisiplinan warga negaranya, terjaganya fasilitas umum dengan baik, tidak ada vandalisme, mencerminkan kemajuan negara tersebut. Sarana transportasi publik juga sangat friendly baik untuk warganya maupun untuk wisatawan. Mulai dari bis, MRT, bahkan Taiwan juga memiliki Taiwan High Speed Rail (THSR) yaitu kereta super cepat semacam Shinkansen di Jepang. Saya berkesempatan mencoba THSR ini dalam perjalanan dari Taipei ke Kaohsiung, di mana apabila mengendarai mobil waktu tempuhnya bisa 8 jam, tetapi dengan naik THSR ini hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam saja.

Pic: Sudut kota Taipei dan THSR
Traveling adalah juga proses pembelajaran, proses pendewasaan… selain menambah pengetahuan dan wawasan, traveling juga mengasah soft skills yaitu makin tinggi rasa toleransi karena berhubungan dengan manusia dengan berbagai latar belakang, budaya dan adat istiadat, bahkan mengasah toleransi dengan teman seperjalanan kita sendiri. Seperti kata tagline sebuah maskapai penerbangan: “Journeys are made by the people you travel with.”
Traveling juga membuat kita semakin memahami arti ‘home sweet home‘, semakin merasakan nikmatnya pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga tercinta. Sebab, bagaimana kita bisa pulang kalau tidak pernah pergi? hehehe.
* Quote from Don Williams Jr
3.Hello, Strangers!
Melakukan perjalanan juga membuat kita bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru, dari berbagai bangsa, yang berbeda latar belakang budaya dan adat istiadatnya. Berkenalan lah… kalau beruntung, paling tidak bisa ditraktir makan gratis. Pertemanan dengan penduduk lokal ini saya alami ketika pada awal tahun 2011 mengunjungi Korea Selatan. Ketika itu saya pergi ke kota kecil Sokcho, suatu tempat di Propinsi Gangwon, yang waktu tempuhnya sekitar 3 jam dari Seoul jika naik bis. Saya berkenalan dengan seorang Mahasiswa yang baru menyelesaikan wajib militernya. Namanya Bo-Sung Jeoung, berasal dari daerah Busan, kota ke-2 terbesar di Korea Selatan. Di Korea Selatan, setiap pria yang berusia minimal 18 tahun wajib mengikuti wajib militer selama kurang lebih 2 tahun. Saya dan Bo-Sung kebetulan menginap di penginapan yang sama, The House Hostel. Kami berkenalan ketika sama-sama sedang menggunakan fasilitas internet di ruang makan Hostel tersebut.

Pic: Meet Bo-Sung Jeong
Sepulang dari Korea kami masih keep in touch. Dan lucunya, saya secara kebetulan bertemu lagi dengan Bo-Sung di Istanbul, Turki pada akhir tahun 2011. Saat itu Bo-Sung sedang melakukan Round The World Traveling (keliling dunia) selama 1 tahun, dan kebetulan dia berada di Istanbul pada saat yang sama dengan saya! Oh well… hope to see you again in another part of the world, Bo-Sung ssi Merasakan irama kehidupan kota tempat tujuan (feel the rhythm of the city), berbaur dengan local people dan bahkan menjadi local people itu sendiri adalah hal yang sangat menyenangkan. Suatu saat, ada kalanya kita merasa bingung atau bosan di tempat tujuan, dan tak tahu harus melakukan apa atau pergi ke mana lagi. Jika mengalami hal tersebut, biasanya saya dan teman pergi ke sebuah Café atau ke taman kota atau ke area publik lainnya, seperti pusat belanja, City Hall, atau pergi ke satu Universitas (kampus). Sekedar menikmati secangkir kopi sambil melihat orang-orang yang berada di tempat tersebut dengan beragam tingkah laku dan gaya berpakaian yang unik, ternyata menyenangkan. Bahkan, stasiun MRT pun bisa menjadi tempat nongkrong yang seru.
4. It’s an owesome feeling when you go to places that’s been written in the book or shot in a movie! Kata-kata di atas saya kutip dari salah seorang travel-writer, Trinity. Menurut saya dia benar, Setiap orang pasti punya alasan mengapa dia ingin datang/mengunjungi suatu tempat. Demikian juga dengan saya, beberapa tempat saya datangi karena terinspirasi dari sebuah film atau drama yang saya tonton, atau buku yang saya baca. Seperti ketika saya memutuskan untuk pergi ke Jepang, Korea Selatan dan juga Taiwan. Dan memang begitu lah rasanya ketika kita bisa datang dan melihat sendiri suatu tempat yang selama ini hanya kita lihat di layar kaca atau dari buku: awesome! Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan
Seorang teman saya bahkan bisa bertemu dan berfoto dengan penyanyi idolanya ketika pergi ke Korea Selatan lalu. Dia memang sengaja menjadwalkan untuk menonton konser musik penyanyi tersebut di hari terakhir, dan voila… teman saya bisa berfoto bareng dan mendapatkan tanda tangan di CD lagunya. Haha!

Pic: Hello idols!
Tapi, tidak selamanya saya pergi ke suatu tempat karena film, drama, buku, atau idola. Kalau ditanya tentang destinasi favorite saya, jawabannya adalah “Anywhere with people… oxygen… and gravity” 😀
Backpacking Tips & Tricks
1.Memilih Penginapan yang Nyaman
Sebagai seorang hijaber, memilih penginapan yang tepat dan nyaman sangat lah penting karena terkait dengan kewajiban menjaga hijab. Maknanya seorang Muslimah harus tetap menutup aurat selama berada di penginapan, tidak hanya selama di perjalanan saja. Karena itu seorang Muslimah traveler harus memilih kamar yang bebas dari ber-ikhtilat (bercampur) dengan orang lain yang bukan mahramnya.
Pengalaman saya ketika menginap di hostel, ada beberapa jenis kamar, yaitu:
- Standard room type: single room, private room, family room
- Dormitory room type: female bedroom, mixed bedroom
Standard room type adalah tipe kamar seperti kamar hotel biasanya. Dapat diisi sendiri (single), berdua (private) dan untuk bertiga atau lebih (family room). Sedangkan dormitory room type adalah tipe kamar seperti di asrama, yang menggunakan tempat tidur tingkat (bunk bed), biasanya berisi minimal 4 tempat tidur (2 buah bunk bed) sampai dengan 8 tempat tidur (4 buah bunk bed). Female bed room adalah kamar dengan tipe dormitory yang diperuntukkan khusus wanita saja, sedangkan mixed bed room biasanya diperuntukkan untuk gabungan antara tamu lelaki dengan perempuan.

Masing-masing jenis kamar, memiliki jenis pilihan kamar mandi, ada yang kamar mandi di dalam dan shared bath room (kamar mandi di luar kamar, digunakan bersama-sama dengan tamu lain). Informasi mengenai fasilitas hostel itu bisa kita ketahui dari web pada saat booking penginapan. Saya biasanya membuat reservasi hostel via www.hostelbookers.com atau www.hostelworld.com Bagi seorang Muslimah traveler, pilihlah kamar yang single (jika sendirian), atau private (berdua, atau tidak bercampur dengan tamu lain). Jika terpaksa memilih tipe kamar dormitory, pilihlah yang Female Bed Room, atau yang memiliki jumlah kamar paling sedikit sehingga jika kita terpaksa untuk menjadikannya private room, biaya yang kita harus keluarkan untuk penginapan tidak terlalu mahal. Menjadikan kamar bertipe dormitory menjadi private room artinya, kita mem-book semua bed, hanya dipakai untuk kita dan teman kita saja, tidak bercampur dengan tamu lainnya. Konsekuensinya, kita harus membayar biaya untuk seluruh bed tersebut. Biasanya, biaya kamar dihitung per orang untuk per malamnya. Jadi misalkan kita pergi bertiga dengan teman kita, dan menginap di dormitory berisi 4 bed, maka kita harus membayar untuk 4 orang. Salah satu upaya untuk menjaga hijab dan tetap menutup aurat dari orang-orang yang bukan mahram, bahkan juga wanita Non Muslim, maka seorang Muslimah traveler hendaklah mempersiapkan perlengkapannya, terutama dengan membawa pakaian yang menutup aurat secara sempurna. Ketika berada di area publik di penginapan pun tetap harus menjaga hijabnya, misalnya dengan mengenakan pakaian longgar dan kerudung kaos (bergo) pada saat berkumpul di ruang tamu atau ruang makan.
2.Sleep in The Airport
Seringkali, tiket promo yang diberikan oleh Low Cost Airline/Budget Airline seperti Air Asia atau Cebu Pacific, menempatkan jam terbang yang ‘tidak bersahabat’ dengan kita. Saya mendapatkan tiket promo ke Taiwan, transit di Manila dengan jam keberangkatan dari Manila ke Taipei adalah pukul 22.40 waktu Manila sehingga tiba di Taipei pada pukul 00.40 tengah malam. Demikian pula ketika pulang dari Taipei menuju Jakarta via Manila. Artinya ketika sampai di negara tujuan, kita belum bisa check in di penginapan, bahkan untuk langsung pergi ke tengah kota pun masih malas rasanya. Dan biasanya para backpackers memanfaatkan waktu dengan tidur di bandara, sampai pagi menjelang. Menginap di bandara juga merupakan salah satu cara untuk menghemat penginapan 😉

Pic: Salah satu sudut di KLIA yang bisa digunakan untuk ‘Rest & Go’
Saat ini hampir di kebanyakan Bandara International memiliki kursi tunggu yang nyaman, juga sudut untuk menyepi, cocok untuk para pejalan yang ingin menginap dan menghabiskan malam di bandara. Siapkan jaket, syal atau selimut tipis agar tidak kedinginan. Dan pastikan barang-barang kita aman berada di samping kita selama kita tidur. Jangan takut untuk diusir ya, selama kita tidak heboh dan berbuat keributan, akan aman-aman saja kok
3.Sholat Di Mana Kita?
Saya selalu meniatkan setiap perjalanan adalah sebagai ibadah. Dalam rangka ibadah tersebut, maka pada saat menyusun itinerary perjalanan, masjid lokal selalu saya masukkan sebagai tempat yang harus dikunjungi. Ya, ternyata masjid atau mushola terdapat hampir di setiap negara. Hanya saja kita memang harus melakukan pencarian informasi mengenai lokasi persis dari masjid atau mushola tersebut karena bentuk bangunannya kadang tidak seperti umumnya di negara kita dan lokasinya mungkin tidak banyak dikenal orang lokal.

Pic: Masjid Al-Dahab a.k.a Manila Golden Mosque di Quiapo, Manila
Sering kali pada waktu sholat tiba, kita sedang berada di daerah yang tidak ada Mesjid/Mushala, bahkan sedang berada di atas kendaraan atau ketika kita sedang berada di tengah keramaian, misal berada di tempat wisata, atau berada di pusat perbelanjaan. Maka kita harus sedikit extra effort untuk mencari lokasi di mana kita bisa sholat dengan nyaman dan khusyu’. Di tempat wisata atau pusat perbelanjaan, jika tidak ada Mushola, cari tahu apakah di situ ada semacam waiting room, yang biasanya digunakan oleh para supir bis, supir mobil pribadi atau pun ibu-ibu yang membawa bayi atau balita untuk menunggu rombongannya. Jika ada, kita bisa memanfaatkan ruangan tersebut untuk melaksanakan sholat. Wudhu bisa kita lakukan di toilet, atau cukup dengan tayamum. Hati-hati ya kalau wudhu di wastafel, jangan sampai membuat toilet itu becek karena bekas wudhu kita. Jagalah kebersihan

Jika kita tidak menemukan praying room atau waiting room, maka kita bisa mencari emergency exit, pintu keluar yang mengarah ke tangga darurat atau mengarah ke tempat parkir. Di dekat pintu keluar tersebut biasanya ada space kosong di pojokan atau di bawah tangga yang tidak dilalui banyak orang, dan cukup untuk kita berdiri melakukan sholat. Ini pernah saya lakukan ketika berada di area Singapore Flyer, di mana di lokasi tersebut tidak ada Mushola atau praying room. Jika di tempat terbuka, misalnya ketika kita sedang menikmati taman kota, kita bisa mencari spot yang agak sepi untuk melaksanakan sholat.
Bagaimana dengan di bandara? Kita bisa bertanya ke bagian informasi untuk mengetahui apakah ada praying room di bandara tersebut. Saat ini hampir semua bandara international, terutama sekali di Asia, memiliki praying room. Banyak cara bisa kita lakukan untuk menjaga sholat sehingga kita tidak meninggalkannya walaupun sedang traveling. Bahkan Allah memberi kelonggaran kepada kita untuk bisa men-jama’ dan meng-qashar sholat ketika sedang menjadi musafir. Jadi sebenarnya kita hanya perlu sholat 1 kali ketika di luar, yaitu ketika waktu Dzuhur dan Ashar, sementara untuk sholat Shubuh bisa dilakukan di penginapan, demikian juga dengan sholat Maghrib dan Isya. Yang terpenting adalah niat kita, jika sejak awal kita berniat dan memohon diberi kemudahan dalam melaksanakan sholat selama perjalanan kita, Insya Allah kita akan dibukakan jalan untuk selalu menemukan tempat sholat tersebut.
4.Halal is My Way
Saat traveling kita tentu ingin menikmati asyiknya mencicipi makanan di rumah makan di tempat tujuan bukan? Hal penting yang perlu dilakukan agar mendapatkan makanan halal adalah mencari tahu lokasi rumah makan yang menjual makanan halal. Browsing di internet adalah salah satu caranya.

Ada baiknya kita membawa makanan ringan yang tentunya halal, untuk dinikmati saat berada di daerah tujuan. Pengalaman saya, setiap kali melakukan perjalanan, minimal saya membawa abon, mie instant atau teri kacang. Aneka kacang-kacangan, cokelat, dan sereal juga bisa menjadi pilihan. Jadi, kita tidak perlu kerepotan mencari makanan jika sulit menemukan rumah makan halal.
Jika membeli makanan di supermarket atau pasar, sebaiknya hindari membeli makanan dalam kemasan yang siap dikonsumsi. Pilih saja makanan yang masih segar dan belum diolah, seperti sayuran atau buah. Sebabnya, kita kurang tahu pasti bahan-bahan digunakan untuk membuat makanan dalam kemasan yang siap konsumsi tersebut, apakah halal atau non halal. Pengalaman saya, makanan kemasan berbentuk bento (1 set lengkap nasi dan lauk pauk) yang dijual di minimarket di Korea mengandung babi. Demikian juga ketika membeli Onigiri (nasi kepal isi seperti lemper) di Jepang, pastikan bahwa isi di dalamnya bukan daging babi. Roti-roti yang berisi daging pun sebaiknya dihindari, karena kebanyakan juga daging non halal.
Ketika makan di rumah makan, dan kurang yakin dengan halal tidaknya makanan di sana, sebaiknya kita memesan menu olahan sayur (vegetarian) dan seafood. Jangan malu untuk bertanya mengenai suatu kandungan makanan apakah mengandung babi dan olahannya atau zat haram lainnya, seperti alkohol, angciu (arak masak), marus, dll (pelajari bagaimana cara bertanya mengenai hal ini dalam bahasa setempat). Jika kita ingin mencicipi makan di restoran fast food, pastikan bahwa restoran fast food tersebut hanya menjual ayam dan sapi (chicken dan beef), tidak menjual menu olahan babi, seperti daging di dalam burger atau campuran pasta. Jika aman, fish & chips atau fish burger bisa menjadi pilihan. Untuk minuman, pilih lah yang standar, yaitu teh atau air mineral.

Pic: Menu seafood di Korea Muslim Mart di Kawasan Mesjid Itaewon – Seoul
Kita juga bisa menemukan banyak penjual makanan halal, baik restoran maupun bakery dan juga mini market di kawasan sekitar Mesjid/Mushala. Contohnya di daerah Seoul Central Mosque di Itaewon, banyak toko-toko yang dikelola oleh penjual Muslim, yang kebanyakan berasal dari Turki, Arab atau India. Jika kebetulan kita makan siang di daerah sana, maka kita bisa sekalian membeli (membungkus) menu untuk makan malam.
5. Backpacking Bersama Keluarga
Backpacking juga bisa diterapkan untuk Family Trip. Tetapi tentu saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika bepergian bersama anak-anak, diantaranya:
- Sebaiknya usia anak sudah di atas 1 tahun. Karena usia ini sudah bisa makan makanan dewasa, dan kita tidak perlu repot membawa perlengkapan untuk makannya. Membiasakan anak meminum susu cair (UHT) sejak dini juga akan memudahkan dalam perjalanan. Kita tidak perlu membawa bekal susu, bisa membeli di supermarket lokal di tempat tujuan.
- Jadwal perjalanan (itinerary) harus disesuaikan dengan usia anak-anak. Pilihlah obyek wisata yang disenangi oleh anak-anak, seperti Kebun Binatang (zoo), Museum, Science Center, Theme Park, dll yang membuat anak menikmati perjalanannya.
- Jika anak masih balita, sebaiknya membawa stroller yang simple. Karena kita akan banyak jalan kaki, agar mereka tidak kelelahan, dan kita juga tidak perlu capek karena harus menggendong anak-anak.
